//
you're reading...
Pertanian

Kayu Manis Kerinci Sebagai Komoditas Unggulan

Nama Kerinci sekaligus dipergunakan oleh tiga subyek. Pertama, Kerinci merupakan nama sebuah  Kabupaten di Provinsi Jambi. Kedua, Kerinci adalah juga nama gunung berapi tertinggi di Indonesia (3.805 m),  yang terletak di perbatasan Kab. Solok, Prov. Sumatera Barat dengan Kab. Kerinci di Prov. Jambi. Ketiga, Kerinci digunakan pula sebagai nama danau yang terletak di dekat kota Sungai Penuh (Sei Penuh), ibukota Kab. Kerinci. Kab. Kerinci sendiri dikenal sebagai  penghasil kayu manis (kulit manis) kualitas terbaik di Indonesia, bahkan juga di dunia. Sebenarnya sentra penghasil kayu manis ini bukan hanya di Kab. Kerinci tetapi tersebar di seluruh Sumatera, di sepanjang pegunungan Bukit Barisan. Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu sampai ke Lampung. Di Kalimantan Selatan, penghasil kayu manis yang terkenal adalah Kab. Barabai dan Kab. Kandangan, di sepanjang punggung pegunungan Meratus. Sementara di Jawa, penghasil  kayu manis yang terkenal antara lain Kab. Magelang, Temanggung dan Wonosobo. Tetapi sentra kayu manis terbesar dan terbaik  di Indonesia, tetap Kab. Kerinci. Total luas areal penanaman kayu manis di Kab. Kerinci mencapai sekitar 30.000 hektar. Sementara di seluruh Provinsi Sumetera Barat hanya sekitar 7.000 hektar.  Demikian terkenalnya Kab. Kerinci sebagai penghasil kayu manis, sampai-sampai nama “Korinci” pun menjadi standar produk kayu manis di pasar dunia.

Tanaman kayu manis adalah penghasil kulit manis. Tanaman yang sudah dewasa ditebang untuk diambil kulitnya. Di pasar dunia, kulit kayu manis Indonesia yang telah dikeringkan dikenal dengan nama Cassia vera alias Padang keneel. Kayu manis merupakan komoditas unggulan bagi India (termasuk Srilanka), China dan Kep. Nusantara sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Produk  kayu manis telah dikenal oleh masyarakat Babyllonia, Mesir, Assyria, Yunani dan Romawi. Kulit kayu manis adalah bahan rempah-rempah, minuman, obat-obatan, kosmetik dan parfum. Rempah-rempah sebagai bahan pengawet mumi para Fira’un di Mesir Kuno, antara lain adalah kulit kayu manis. Minyak cinnamon dalam kulit kayu manis yang terdiri dari eugenol dan cinnaldehide,  memang memiliki daya bunuh terhadap mikroorganisme. Dalam ujicoba di sebuah lab, minyak cinnamon mampu membunuh rickettsia (mikroorganisme berbentuk bakteri tetapi bersifat seperti virus, penyebab penyakit tyfus) dalam waktu 12 menit. Minyak cengkeh yang juga mengandung eugenol, baru bisa membunuh rickettsia setelah 25 menit. Aroma cinnamon digunakan antara lain dalam masakan gulai kambing, agar-agar dan lapis legit. Selain itu cinnamon juga dimanfaatkan dalam industri pasta gigi, minuman keras, krim kulit dan juga parfum.

Kayu manis yang lazim dibudidayakan ada beberapa spesies. Di India ditanam Cinnamomum tamala dengan produknya bernama Indian Cassia.  Dari Srilanka dihasilkan Ceylon Cinnamon dari tanaman Cinnamomum zeylanicum.  Chinese Cinnamon dihasilkan China dari tanaman Cinnamomum cassia. Sementara di Indonesia dibudidayakan Cinnamomum burmani dari Sumatera, dengan produknya yang dikenal sebagai Padang Keneel, Padang Cassia atau Cassia vera. Di Jawa dikenal Cinnamomum javanicum namun tidak pernah dibudidayakan secara massal karena hasil kulitnya tidak sebaik Cinnamomum burmani. Selain itu di Jawa juga bisa ditemui Cinnamomum sintok  (kayu sintok) yang biasa disuling untuk diambil minyak asirinya. Di Maluku dikenal Cinnamomum cullilawan atau lazim pula disebut sebagai kulit lawang atau kayu lawang. Minyak asirinya dikenal sebagai minyak lawang. Sampai dengan saat ini, di Asia Tenggara dikenal  ada 55 spesies Cinnamon. Selain dimanfaatkan sebagai bahan rempah dan minyak asiri dan oleoresin, beberapa spesies Cinnamon juga merupakan penghasil kayu. Misalnya C. eugenoliferum, C. grandiflorum, C. Iners dan masih banyak lagi.

Kayu manis Srilanka yang kualitas kulitnya paling baik, sebenarnya pernah pula didatangkan oleh pemerintah Kolonial Belanda ke Indonesia. Namun di dataran tinggi yang basah, tanaman ini kurang begitu baik pertumbuhannya. Sebab di Srilanka, kayu manis Ceylon dibudidayakan pada lahan dataran rendah berpasir yang curah hujannya relatif kecil. Sementara curah hujan kawasan dataran tinggi di Indonesia rata-rata cukup tinggi. Kayu manis srilanka yang sudah banyak dikembangkan di Jawa, hasilnya pun akan cukup baik dengan kualitas kulit yang lebih tinggi dibanding kayu manis C. burmani apabila ditanam di dataran rendah kering. Namun di Jawa, pengembangan Cinnamomum zeylanicum, yang oleh masyarakat disebut sebagai “kulit keningar” ini kurang berkembang. Penyebabnya adalah, perkembangan generatifnya kurang baik. Buah (biji) yang dihasilkan oleh C. zeylanicum alias kayu manis srilanka ini sangat sedikit. Meskipun di Banyuwangi sana, pertumbuhan C. cassia terlihat cukup baik dengan volume buah yang relatif banyak untuk upaya pengembangannya. Harga C. zeylanicum di Indonesia relatif lebih tinggi dibanding dengan C. burmani. Selain itu volume kulitnya juga lebih banyak. Pada ketinggian sekitar sekitar 700 m. dpl. pertumbuhan C. zeylanicum relatif sama dengan pertumbuhan C. burmani. Di Purwokerto, penyulingan minyak asiri dari bahan C. zeylanicum pernah dilakukan. Di pasar dunia, kualitas Ceylon Cassia atau thrue cinamon, menduduki tempat yang paling tinggi. Disusul oleh Padang Keneel alias Cassia Vera dan baru kemudian Chinese Cassia dan Indian Cassia.

Meskipun kurang dikenal oleh masyarakat, kayu manis adalah komoditas agribisnis yang relatif luas budidayanya. Total areal tanaman kayu manis di Indonesia sekitar 70.000 hektar, dengan hasil berkisar antara 15.000 sampai dengan 20.000 ton kulit kayu manis kering per tahun. Nilai ekspornya, rata-rata per tahun  berkisar antara US $ 20 juta sampai dengan US $ 25 juta. Budidaya kayu manis memang menuntut lahan dengan ketinggian di atas 500 m. dpl. Meskipun kayumanis C. burmani dapat tumbuh baik pada ketinggian di bawah 500 m. dpl, sampai dengan 0 m. dpl, namun hasil kulitnya tidak sebaik kayu manis yang dibudidayakan pada lahan berketinggian di atas 500 m. dpl. Tingginya mutu kayu manis Kerinci disebabkan oleh lokasi budidayanya yang berketinggian di atas 1.000 m. dpl. Di Kersik Tuo, di lereng timur gunung Kerinci misalnya, kayu manis ditanam sebagai “naungan” kentang pada ketinggian antara 1.500 sampai dengan 1.700 m. dpl. Beda dengan C. burmani yang menghendaki lahan dataran tinggi, maka C. zeylanicum justru akan tumbuh baik pada lahan dataran rendah yang kering. Misalnya di Pasuruan, Probolinggo Bali utara dan NTT. Semakin kering dan panas suatu kawasan, semakin cocok untuk budidaya kayu manis srilanka.

Bibit kayu manis bisa berasal dari semaian biji maupun sirung (tunas yang berasal dari tunggul bekas potongan). Buah (biji) kayu manis berukuran sedikit lebih kecil dibanding melinjo. Warna kulit buahnya hijau dan akan berubah menjadi hitam keunguan setelah masak. Biasanya buah kayu manis masak sangat disukai oleh burung. Hingga pengumpulannya sering mengalami kesulitan. Untuk menanggulanginya, buah kayu manis yang telah tua, ditandai dengan beberapa buah telah masak, langsung bisa dipanen untuk benih. Sebelum disemai, buah kayu manis memerlukan fermentasi untuk menghancurkan lapisan kulit dan daging buahnya. Fermentasi ini bisa dilakukan dengan pemeraman selama satu minggu sampai kulit buahnya benar-benar hancur. Setelah itu buah dicuci untuk menghilangkan lapisan lendirnya. Biji-biji ini bisa dikering anginkan sebelum disemai. Bibit sirung berasal dari tunas yang tumbuh pada tunggul bekas potongan batang saat kayu manis dipanen. Biasanya pemanenan kayu manis dilakukan dengan cara pemotongan batang setinggi 5 sd. 10 cm. dari atas permukaan tanah. Selang sebulan kemudian tunas-tunas akan bertumbuhan. Pada saat itulah tunggul tersebut ditimbun dengan tanah yang kaya akan humus. Selanjutnya tunas-tunas tersebut dibiarkan tetap tumbuh sampai sekitar  dua tahun. Setelah itu dilakukan pemisalah sirung dari batang induknya. Bisanya disisakan satu tunas untuk tetap menjadi individu baru pada tunggul bekas potongan tersebut.

Tanaman kayu manis mulai bisa dipanen (sebagai penjarangan), pada umur 6 tahun. Kemudian pada umur 10 tahun kembali dilakukan panen kedua. Baru pada umur 15 tahun dilakukan pemanenan secara menyeluruh. Pada tahun ke 15 tersebut, tanaman yang ditebang pada umur 6 tahun telah menghasilkan individu tanaman dengan umur 10 tahun. Sementara yang dipanen pada umur 10 tahun telah menghasilkan tanaman baru dengan umur 5 tahun. Diameter batang pada saat dilakukan pemanenan berukuran antara 30 cm. sampai dengan 50 cm, tergantung dari umur tanaman, kondisi bibit saat ditanam dan tingkat kesuburan tanah. Bibit asal sirung, memiliki daya pertumbuhan relatif lebih cepat dibanding bibit berasal dari biji. Ada beberapa cara pemanenan. Pertama batang langsung ditebang dan dikuliti. Cara kedua, kulit dikelupas terlebih dahulu dan dibiarkan menumbuhkan khalus (kulit) baru,  sebelum akhirnya ditebang. Cara ini lebih cepat menghasilkan tunas dibanding dengan cara penebangan biasa. Ada pula cara panen dengan pemukulan kulit batang pohon sampai memar, lalu dibiarkan selama dua bulan sebelum kulit dipanen. Cara ini bisa mempertebal kulit hingga volume panen bertambah. Di Vietnam, cara panen dilakukan dengan mengupas kulit batang berbentuk persegi berselang-seling seperti kotak panan catur. Setelah kotak bekas kupasan kulit pertama pulih, dilakukan pengupasan kotak berikutnya. Dengan cara ini produktifitas kulit yang dipanen bisa lebih tinggi.

Produk katu manis, baik Ceylon Cassia, Cassia Vera maupun Chinese Cassia, biasanya diperdagangkan dalam bentuk kulit kering. Penggunaan kulit kayu manis,  bisa berupa kulit utuh untuk bumbu masakan. Misalnya pada gulai kambing. Bisa juga dalam bentuk serbuk seperti yang telah dilakukan sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Tetapi pemanfaatan kayu manis secara modern biasanya dalam bentuk minyak asiri maupun oleoresin. Minyak asiri atau minyak terbang adalah produk destilasi dari serbuk kulit kayumanis atau bagian tanaman lainnya. Sementara oleoresin adalah hasil ekstraksi dari serbuk tersebut. Nilai oleoresin lebih tinggi dibanding dengan minyak asirinya. Sebab dalam oleoresin selain terkandung minyak asiri, juga terikut pula rasa pedas dari produk yang diekstrak. Meskipun teknologi pengolahan serbuk kayu manis menjadi oleoresin sudah sudah bukan lagi merupakan rahasia, namun sampai dengan saat ini Indonesia masih belum mampu mengembangkan produk ini. Jago oleoresin dunia tetap didominasi oleh Perancis dan India. Sementara Indonesia sebagai salah satu penghasil kayu manis dunia, harus puas bisa  menjualnya dalam bentuk kulit kering utuh.

Diskusi

Belum ada komentar.

AJUKAN PENDAPAT, SARAN DAN KRITIK ANDA

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

CENTRAL BIBIT TANAMAN

Tempat Iklan Gratis

BIKIN WEBSITE SENDIRI

www.waroengweb.co.id

www.waroengweb.co.id

Kerinci Online

%d blogger menyukai ini: